Markas PBB, New York (KABARIN) - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Rabu (17/6), menyebut kelompok-kelompok bersenjata menyebabkan hambatan terhadap upaya penanganan Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo bagian timur.
OCHA menyebut beberapa kelompok bahkan sempat menahan petugas bantuan kemanusiaan,
Mereka memaparkan, lima petugas tanggap darurat sempat ditahan sebentar, Selasa (16/6), oleh kelompok bersenjata di Provinsi Ituri, episentrum wabah Ebola saat ini yang menyumbang lebih dari 90 persen dari keseluruhan kasus terkonfirmasi.
OCHA menambahkan, akses bantuan di Provinsi Kivu Selatan masih sangat terbatas di beberapa daerah karena pertempuran terus memaksa warga sipil untuk mengungsi. Hampir 20.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka pada Senin (15/6), menyusul bentrokan di wilayah Mwenga dan Shabunda.
Keluarga yang mengungsi saat ini membutuhkan bantuan makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan, air minum layak konsumsi, dan perlindungan.
Sementara itu, di wilayah Fizi, akses kemanusiaan juga masih berada di bawah tekanan karena gangguan kelompok bersenjata berulang kali terjadi dan terus mengancam pengiriman bantuan maupun keselamatan para pekerja kemanusiaan, sebut OCHA.
Di Kivu Selatan saja, antara Januari hingga Mei, tercatat sedikitnya 57 insiden yang secara langsung memengaruhi para pekerja kemanusiaan, termasuk ancaman terhadap staf, gangguan dalam pengiriman bantuan, dan pembatasan pergerakan.
"Terlepas dari tantangan yang sangat besar ini, PBB dan para mitra kemanusiaannya terus mendukung otoritas nasional dalam membendung penyebaran wabah dan memberikan bantuan. Meski demikian, personel kemanusiaan tidak dapat beroperasi dengan aman tanpa adanya jaminan keamanan," kata OCHA.
PBB kembali menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi warga sipil dan memastikan akses yang aman, cepat, dan bebas hambatan kepada mereka yang membutuhkan.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026